Klik Versi Mobile

Add rismanrachman Mippin widget
Artikel Politik Agenda Politik Tokoh Politik negeritanpabendera
Alif Jim Ha Tradisi Puisi Cerita Humor Sosok
Islam Aceh Sufi Kisah Qanun Syariat
Resto Enak di Banda Aceh Hotel di Banda Aceh Kuliner Aceh Souvenir Aceh Warung Kopi Tsunami Aceh Konflik Aceh

HEADLINE

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Jumat, 26 November 2010 | 13.13 | 0 Comments

Martti, Apa yang Sedang Anda Pikirkan?

Meminjam pertanyaan facebook, "apa yang Anda pikirkan, Martti? Saya belum membuka facebooknya juru damai yang sudah pernah menerima hadiah nobel perdamaian itu. Lagi pula saya tidak berteman dengannya di FB dan juga tidak tahu, apakah dia punya account FB sebagaimana para pemimpin lain?

Untuk itu, saya menelusuri saja koran lokal. Melalui media (Serambi Indonesia), publik jadi mengetahui bahwa Martti Ahtisaari sudah berjanji akan terus memantau perkembangan perdamaian Aceh secara berkala. Bahkan ia berusaha setiap tahun akan datang langsung ke Aceh untuk memastikan perdamaian berjalan baik (14/11).

Tentu tidak ada yang istimewa dalam kabar yang diterima publik itu. Bagaimanapun, sebuah pekerjaan yang baik membutuhkan kerja pemantauan agar jika ada kendala dan hambatan bisa segera dicarikan solusinya. Tanpa pemantauan maka implementasi rencana bisa saja menyimpang atau terkendala sehingga sasaran yang sudah ditetapkan bisa tidak tercapai.

Namun begitu, janji Martti untuk selalu datang ke Aceh agar perdamaian Aceh berjalan baik tentu melegakan hati. Bagaimanapun, Martti masih dibutuhkan untuk mencegah beda persepsi berkembang ke debat kusir yang menguras energi sia-sia, seperti tentang Self Government. Begitu juga jika ada kendala dalam implementasi MoU Helsinki dapat segera dipecahkan lewat pendekatan meja perundingan dan tidak membiarkannya berlarut dimakan waktu.

Sayangnya, publik tidak bisa mengetahui lebih banyak tentang aspek-aspek pemantauan yang dimaksud Martti. Apakah Martti juga menyinggung soal perlunya evaluasi dari kerja resolusi konflik Aceh yang kemudian juga telah melibatkan kerja-kerja peacebuilding dan kerja-kerja transformasi konflik?

Rasanya, setelah damai Aceh berusia lima tahun sudah sangat penting untuk dilakukan evaluasi. Bagaimanapun masyarakat, pihak pendukung, para pekerja perdamaian, dan para pihak ingin tahu dan melalui evaluasi sejumlah pertanyaan kunci akan bisa diajukan.

Beberapa pertanyaan evaluasi yang bisa dimunculkan sebagai refleksi keingintahuan, misalnya: apakah berbagai program damai sudah membantu atau justru menyusahkan (masyarakat): apakah dukungan yang diberikan dapat memperbaiki keadaan (donor): apakah kegiatan yang ada menjawab masalah (pekerja damai): dan apakah kesepakatan sudah lebih maju dalam implementasinya (para pihak).

Indikator Perdamaian Aceh
Pemantauan dan evaluasi tidak saja membutuhkan sejumlah pertanyaan kunci melainkan juga sejumlah indikator untuk mengukur apakah kerja pengelolaan konflik, resolusi konflik, peacebuilding, dan transformasi konflik Aceh sudah menuju sasarannya atau tidak.

Dalam konteks partisipasi publik, adanya indikator akan mendorong keterlibatan masyarakat untuk ambil bagian dalam kerja-kerja membangun perdamaian Aceh, termasuk dalam kerja-kerja pemantauan dan evaluasi secara terarah. Jika tidak ada penetapan indikator maka semua pihak akan menjadi liar dalam menilai dan menyampaikan klaimnya. Akibatnya adalah, rezim peace-building akan menjadi aktor tunggal yang sangat rapuh akibat penilaian yang tidak didasarkan pada indikator perdamaian Aceh.

Pada saat yang sama publik dan berbagai pihak juga akan terlibat dalam polemik yang keras dan bisa jadi akan bersikap vis a vis dengan rezim peace-building alias pemerintah serta dengan para pihak.

Dalam konteks itu rasanya menjadi tepat apa yang diingatkan oleh mantan wakil GAM pada AMM, Irwandi Yusuf, bahwa kemungkinan kambuh (relapse)-nya konflik di suatu daerah oleh berbagai sebab, bisa saja terjadi, termasuk di Aceh (10/11).

Lebih jauh, adanya indikator perdamaian Aceh juga bisa membantu memenuhi permintaan Irwandi agar dalam merencanakan dan menyusun program pembangunan daerahnya, haruslah yang mampu mengatasi munculnya konflik, baik oleh sebab-sebab lama maupun oleh sebab-sebab baru.  jadi, penyusunan program pembangunan dengan pendekatan Peka Konflik bisa dicapai dengan mudah jika tersedia apa yang disebut dengan indikator perdamaian.

Indikator perdamaian sekaligus akan mendorong lahirnya indikator peringatan dini adanya perulangan konflik atau tindak kekerasan dengan motif konflik. Dengan adanya dua indikator ini tentu saja kerja Martti dan partisipasi publik dalam melakukan pemantauan dan evaluasi akan lebih mudah. Jika tidak, maka semua akan memiliki persepsi masing-masing, dan ini bisa menjadi jalan melingkar menuju perulangan konflik Aceh jika sudah bercampur praduga dan prasangka.

Martti, Apa yang sedang terjadi?
Read more
Minggu, 21 November 2010 | 12.55 | 1 Comments

Cara Cepat Memilih Pemimpin

Apapun cara yang disepakati dalam memilih pemimpin selalu ada kelebihan dan kelemahannya. Bagi Anda yang memutuskan untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu nasional maupun pemilu lokal ada baiknya mempertimbangkan tips dan trik berikut.


A. Tips dan trik cepat menandai pemimpin dari cara bersalaman:

1. Lihat gerakan tangannya dan rasakan apakah ringan kala diulurkan.
2. Rasakan genggamannya apakah  kuat (hangat) tapi lembut bersahabat.
3. Tatap matanya apakah fokus pada yang di salam.
4. Cermati garis senyum apakah tegas dan terasa aura keikhlasan.

Trik cepat menguji kualitas awal kepemimpinannya:

Genggam tangannya sedikit agak lama dan lihat reaksinya. Jika dia membiarkannya sambil tersenyum itulah sang pemimpin Anda.

Jika tidak ada 3 tanda dari 4 tanda (tips)  maka jadikan ia hanya sebagai sahabat yang ahli dibidangnya saja, bukan sebagai pemimpin. Kecuali Anda sedang mencari duit atau mau menjadikannya sebagai boneka semata atau mau mencelakakannya.

B. Tips dan trik menandai pemimpin dari cara ia melambaikan tangan:

1. Jika telapak tangannya menekuk ke atas atau lurus maka ia pemimpin yang akan mengutamakan citra diri dan lebih mengutamakan diri, keluarga, saudara dan kaumnya ketimbang berbuat adil.

2. Jika telapak tangannya menekuk agak ke bawah itulah pemimpin yang senantiasa menebar kasih dan cinta pada semua dan siap melindungi rakyatnya.

Trik: jika ia melambai dan sedang melihatmu cobalah kasih isyarat dengan jempolmu. Jika ia membalas dengan jempolnya juga ia orang yang luwes dengan kebijakannya. Jika ia membalas dengan telunjuknya ia orang yang tegas dengan kebijakannya. Tapi jika ia tetap melambai, ia hanya boneka seseorang yang sedang dikendalikan.

C. Tips dan trik menandai pemimpin dari cara ia berpidato

1. Jika ia kerap menggunakan telunjuk yang mengarah ke atas ia sosok yang visioner sekaligus flamboyan.
2. Jika ia kerap menggunakan ibu jari yang mengarah ke depan ia sosok yang menjaga citra diri sekaligus penyayang keluarga.
3. Jika ia kerap menggepalkan tangannya ke atas ia sosok yang tegas sekaligus pendendam yang diam.

Trik: lihat gerak matanya. Jika kerap melihat ke atas dia sosok penuh kebingungan. Jika kerap melihat ke kiri dia sosok yang penuh beban hidup. Jk hanya melihat ke kanan dia sosok yang sedang melihat petunjuk pada tim yang menginginkannya jadi pemimpin.

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Read more
Sabtu, 20 November 2010 | 13.25 | 0 Comments

Apa Kata Serdadu Tua Tentang Perang?

Aceh sangat dikenal dengan sejarah perangnya. Perang Aceh - Belanda yang berlangsung sejak 1873 sd 1904 adalah salah satu perang panjang yang menyimpan banyak kisah untuk dikenang. Begitu juga dengan perang-perang periode berikutnya dalam ragam pase konflik Aceh.

Tentu sudah banyak catatan sejarah perang Aceh disajikan sebagai bahan bacaan, renungan, dan pembelajaran untuk generasi damai Aceh kini. Dan, untuk melengkapi catatan yang kini banyak berserakan di dunia maya itu, seorang sahabat, Mariska Lubis, bersedia menterjemahkan kutipan-kutipan dari para serdadu perang tentang perang itu sendiri untuk menjadi bahan renungan bagi penduduk negeritanpabendera.

Berikut warna-warni pandangan, sikap, dan pencermatan para serdadu tentang perang itu sendiri.

Redaksi

Sometimes I think it should be a rule of war that you have to see somebody up close and get to know him before you can shoot him. ~M*A*S*H, Colonel Potter (soldier)

Terkadang saya berpikir bahwa seharusnya ada peraturan dalam perang di mana ada kewajiban untuk melihat seseorang dalam jarak yang sangat dekat dan mengenalnya terlebih dahulu sebelum Anda menembaknya – M*A*S*H, Colonel Potter (Serdadu)

The object of war is not to die for your country, but to make the other bastard die for his. ~George Patton (Soldier)

Object dari perang bukanlah mati untuk negaramu tetapi membuat pecundang lain mati untuk negaranya. – George Patton (Serdadu)

The death of one man is a tragedy. The death of millions is a statistic. ~Joe Stalin, comment to Churchill at Potsdam, 1945 (Soldier)

Kematian satu orang adalah sebuah tragedy. Kematian jutaan orang adalah sebuah statistik. – Joe Stalin dalam menganggapi Churchill di Potsdam, 1945 (Serdadu)

They wrote in the old days that it is sweet and fitting to die for one's country. But in modern war there is nothing sweet nor fitting in your dying. You will die like a dog for no good reason. ~Ernest Hemingway (writer and ex soldier)

Mereka menulis masa lalu yang indah dan tepat bila untuk mati bagi Negara. Namun di dalam perang modern, tidak ada yang manis ataupun tepat untuk menantikan ajalmu. Anda akan mati seperti seekor anjing tanpa aa alasan yang baik. – Ernest Hemingway (Penulis dan mantan serdadu)

All the great things are simple, and many can be expressed in a single word: freedom, justice, honor, duty, mercy, hope. – Winston Churchill (Soldier)

Semua yang hebat adalah sederhana, dan banyak yang dapat diekspresikan dalam satu kata : kebebasan, keadilan, penghargaan, tugas, anugerah, harapan. – Winston Churchill (Serdadu)

A sincere diplomat is like dry water or wooden iron. – Joseph Stalin (Soldier)

Seorang diplomat yang tulus adalah seperti air kering atau setrika kayu. – Joseph Stalin (Serdadu)

Ideas are more powerful than guns. We would not let our enemies have guns, why should we let them have ideas. – Joseph Stalin (Soldier)

Ide lebih kuat daripada senjata. Kami dapat membiarkan musuh kami memiliki senjata, kenapa kami harus membiarkan mereka memiliki ide. - Joseph Stalin (Serdadu)

If any foreign minister begins to defend to the death a "peace conference," you can be sure his government has already placed its orders for new battleships and airplanes. – Joseph Stalin (Soldier)

Jika seorang menteri luar negeri mulai membela mati-matian tentang sebuah “konferensi perdamaian,” Anda dapat yakin kalau pemerintahnya telah memesan kapal dan pesawat perang baru. – Joseph Stalin (Serdadu)

I, Philip Kearny, an old soldier, enter my solemn protest against this order for retreat. - Philip Kearny (Soldier)

Saya, Philip Kearny, seorang serdadu tua, dengan hikmak memasukkan protest saya atas perintah ini untuk mundur. – Philip Kearny (serdadu)

War is horrible because it strangles youth. – Philip Kearny (Soldier)

Perang itu mengerikan karena mencekik generasi muda. – Philip Kearny (Serdadu)

Leadership is solving problems. The day soldiers stop bringing you their problems is the day you have stopped leading them. They have either lost confidence that you can help or concluded you do not care. Either case is a failure of leadership. - Colin Powell (Soldier)

Kepemimpinan adalah menyelesaikan masalah. Pada hari para tentara berhenti membawa masalah mereka adalah hari di mana Anda berhenti memimpin mereka. Mereka bisa telah kehilangan keyakinan bahwa Anda dapat menolong atau berkesimpulan bahwa Anda tidak peduli. Dua-duanya merupakan kegagalan kepemimpinan – Colin Powell (serdadu)

No battle plan survives contact with the enemy. -Colin Powell (Soldier)

Tidak ada perang yang memiliki rencana selamat saat berhadapan dengan musuh. – Collin Powel (serdadu)

Some of the generals are saying, 'We're making progress. We are clearing an area.' But you really don't defeat the Taliban by clearing an area. They move. - Colin Powell (Soldier)

Beberapa jendral berkata, “Kami telah membuat kemajuan. Kami telang membersihkan sebuah area.” Tetapi Anda tidak mengalahkan Taliban dengan membersihkan wilayah mereka. Mereka pindah. –Colin Powell (serdadu)

War should be the politics of last resort. And when we go to war, we should have a purpose that our people understand and support. - Colin Powell (Soldier)

Perang seharusnya adalah tempat peristrahatan terakhir politik. Dan ketika kita pergi berperang, kita seharusnya memiliki sebuah tujuan yang dimengerti dan didukung oleh masyarakat. – Colin Powell (serdadu)

Ours is a world of nuclear giants and ethical infants. We know more about war that we know about peace, more about killing that we know about living. - Omar N. Bradley (Soldier)

Kita adalah sebuah dunia nuklir raksasa dan etis yang masih bayi. Kita tahu lebih banyak tentang perang dibandingkan tentang perdamaian, lebih banyak tentang membunuh daripada kita tahu tentang hidup. Omar N. Bradley (serdadu)

The world has achieved brilliance without wisdom, power without conscience. Our is a world of nuclear giants and ethical infants. - Omar N. Bradley (Soldier)

Dunia telah meraih kehebatan tanpa kebijaksanaan, kekuatan tanpa hati nurani. Kita adalah sebuah dunia nuklir raksasa dan etis yang masih bayi. – Omar N. Bradley (serdadu)

If we continue to develop our technology without wisdom or prudence, our servant may prove to be our executioner. - Omar N. Bradley (Soldier)

Jika kita terus membangun teknologi tanpa kebijaksaan atau kedewasaan, hamba kami mungkin terbukti menjadi algojo kami. – Omar N. Bradley (serdadu)

Bravery is the capacity to perform properly even when scared half to death. - Omar N. Bradley (Soldier)

Keberanian adalah kapasitas untuk menampilkan keberanian adalah kapasitas untuk melakukan dengan benar meski takut setengah mati. – Omar N. Bradley (sedadu)

This is as true in everyday life as it is in battle: we are given one life and the decision is ours whether to wait for circumstances to make up our mind, or whether to act, and in acting, to live. - Omar N. Bradley (Soldier)

Betul, kehidupan sehari-hari adalah peperangan; kita diberikan satu nyawa dan keputusan ada di tangan kita sendiri apakah mau menunggu keadaan untuk memperbaiki pikiran kita atau untuk melakukan tindakan, dan di dalam melakukan tindakan untuk hidup. – Omar N. Bradley (serdadu)

In war there is no substitute for victory.- Douglas MacArthur (Soldier)

Dalam perang tidak ada pengganti untuk kemenangan. - Douglas MacArthur (sedadu)

In war, you win or lose, live or die - and the difference is just an eyelash. - Douglas MacArthur (Soldier)

Dalam perang, Anda menang atau kalah, hidup atau mati - dan perbedaan itu hanyalah sebuah bulu mata. - Douglas MacArthur (sedadu)

It is fatal to enter any war without the will to win it. - Douglas MacArthur (Soldier)

Sangat berbahaya untuk memasuki perang tanpa keinginan untuk tidak memenangkannya. - Douglas MacArthur (sedadu)

It is well that war is so terrible. We should grow too fond of it. - Robert E. Lee (Soldier)

Benar bahwa perang sangat mengerikan. Kita harus tumbuh dengan terlalu menyukainya. - Robert E. Lee (serdadu)

The war... was an unnecessary condition of affairs, and might have been avoided if forebearance and wisdom had been practiced on both sides. - Robert E. Lee (Soldier)

Perang ... adalah kondisi yang tidak penting, dan mungkin telah dihindari jika ke tanpa beban dan kebijaksanaan yang diterapkan oleh kedua belah pihak. - Robert E. Lee (serdadu)

We must expect reverses, even defeats. They are sent to teach us wisdom and prudence, to call forth greater energies, and to prevent our falling into greater disasters. - Robert E. Lee (Soldier)

Kita harus mengharapkan kebalikannya, bahkan kekalahan. Mereka dikirimkan untuk mengajarkan kebijaksanaan dan kebenaran, untuk memanggil energy yang lebih besar, dan untuk menjaga kejatuhan kita kepada kejatuhan yang lebih besar lagi. – Robert E. Lee (serdadu)

What a cruel thing war is... to fill our hearts with hatred instead of love for our neighbors. - Robert E. Lee (Soldier)

Perang sungguh sangat kejam… untuk mengisi hati kita dengan kebencian dibandingkan dengan cinta kepada tetangga kita sendiri. – Robert E. Lee (serdadu)

Leadership is intangible, and therefore no weapon ever designed can replace it. - Omar N. Bradley (Soldier)

Kepemimpinan adalah tidak tampak dan oleh karena itulah tidak ada satu senjata pun yang bisa dibuat untuk menggantikannya - Omar N. Bradley (serdadu)

Wars can be prevented just as surely as they can be provoked, and we who fail to prevent them, must share the guilt for the dead. - Omar N. Bradley (Soldier)

Peperangan dapat dijaga seperti halnya mereka juga dapat diprovokasi, and kita yang gagal menjaganya, harus berbagi rasa bersalah hingga akhir hayat. - Omar N. Bradley (serdadu)

We know more about war than we know about peace, more about killing than we know about living.- Omar N. Bradley (Soldier)

Kita tahu lebih banyak perang daripada kita tahu tentang perdamaian, tahu lebih banyak membunuh daripada kita tahu bagaimana tentang hidup. Omar N. Bradley (serdadu)

With the monstrous weapons man already has, humanity is in danger of being trapped in this world by its moral adolescents. - Omar N. Bradley (Soldier)

Dengan senjata-senjata mengerikan yang sudah dimiliki manusia, kemanusiaan sedang dalam bahaya terjebak dalam dunia dengan keremajaan moralnya. – Omar N. Bradley (serdadu)

That is not to say that we can relax our readiness to defend ourselves. Our armament must be adequate to the needs, but our faith is not primarily in these machines of defense but in ourselves. Chester W. Nimitz (Soldier)

Itu tidak berarti bahwa kita dapat bersantai menghadapi kesiapan kita dalam mempertahankan diri. Persenjataan kita harus bisa mencukupi kebutuhan, tetapi iman kita bukanlah yang paling utama di dalam mesin pertahanan ini, melainkan diri kita sendiri. - Chester W. Nimitz (serdadu)

I appeal to you as a soldier to spare me the humiliation of seeing my regiment march to meet the enemy and I not share its dangers. - George Armstrong Custer (Soldier)

Saya tampil di hadapan Anda sebagai seorang prajurit untuk memberikan saya peluang untuk dipermalukan melihat resimen saya berbaris bertemu dengan musuh dan saya tidak berbagi bahayanya. – George Armstrong Custer (serdadu)

Let us have peace. - Ulysses S. Grant (Soldier)

Mari kita miliki perdamaian. – Ulysses S. Grant (serdadu)

Although a soldier by profession, I have never felt any sort of fondness for war, and I have never advocated it, except as a means of peace. - Ulysses S. Grant (Soldier)

Meskipun menjadi seorang serdadu adalah profesi, saya tidak pernah merasa memiliki rasa suka terhadap perang, dan saya tidak pernah menganjurkan, kecuali untuk tujuan perdamaian. – Ulysses S. Grant (serdadu)

Bersambung ke Apa Kata Negarwan Tentang Perang?
Read more
Kamis, 18 November 2010 | 11.46 | 0 Comments

Gayus dan Golkar: Pertarungan Politik Simbol


Ada perempuan bergaun kuning di samping Gayus (lihat foto). Gayus juga diketahui menginap di kamar 1522 Hotel Westin. Kuning sudah akrab dengan Partai Golkar. Nomor kamar 1522 agak mirip dengan tanggal dan bulan lahir Bung Ical, panggilan akrab Ketua Umum Partai Golkar yakni 1511. Adakah ini isyarat Gayus sedang ada hajat dengan Bung Ical, atau sebaliknya. Atau, bisa jadi pihak lain untuk kepentingan politik 2014? Hmmm.... 

Gayus dan Golkar kini menjadi topik perbincangan penting republik ini. Dan, semakin penting karena hasil bidikan kamera sang jurnalis Kompas itu seperti buku petunjuk kemana harus diarahkan "tudingan."

Benar saja, sosok perempuan bergaun kuning yang ada disamping Gayus seakan menjadi penunjuk arah bahwa Gayus ke Bali dalam rangka bertemu seseorang, yang dalam bahasa terjemahan publik adalah Aburizal Bakrie, yang tidak lain adalah Ketua Umum Partai Golkar. Bukan hanya foto, nomor kamar 1522 tempat Gayus menginap yang mirip dengan angka dan bulan kelahiran Ical (1511) juga menjadi tanda untuk petunjuk.

Sebuah penghubungan yang memang mudah untuk ditarik singgungannya. Toh, jauh sebelumnya Gayus pernah mengungkap hubungan kerja bawah tangannya dengan group usaha Bakrie dalam hal pajak.

Sayangnya, Ical dan tim Golkar-nya memiliki alibi yang kuat untuk menepis isu yang beredar. Bahkan, sejumlah kader partai lain ikut mematahkan tudingan pertemuan Gayus dengan Ketua Umum Golkar yang memang hobi dengan tenis. Dan, pada saat yang sama justru mulai menempatkan kasus ini dalam bacaan politik skenario 2014.

Akibatnya, Gayus yang tidak punya sejarah hobi di bidang tenis itu justru kini dikaitkan dengan jaringan mesin politik yang garisnya menuju titik istana. Jadilah kini Gayus dipersepsi sebatas pion yang sedang dimain-mainkan untuk kepentingan politik 2014. Gayus disegaja untuk terus menjadi aktor tertuduh dalam kasus mafia hukum agar kasus-kasus strategis lainnya akan tertutupi. Publik tentu akan sangat geram dan gemes dengan Gayus yang dengan tenangnya menampar-nampar hukum dan aparat. Akhirnya, publik akan mengabaikan kasus-kasus lain yang justru berkait dengan citra para aktor utama di luar Gayus. Jadilah publik lupa terhadap kasus Century dan tidak terlalu dalam mengetahui kasus Krakatau Steel.

Dengan gambaran terbaru tersebut maka apa yang sedang terjadi saat ini tidak lebih dari sebuah pertarungan politik simbol. Jika awalnya Gayus dan Golkar hendak dipersepsikan sebagai simbol koruptor dan mafia hukum dan pajak justru berkembang menjadi dua simbol baru yang terpisah jauh dan amat kontradiksi.

Gayus kini justru menjadi simbol darah biru dan secara tidak langsung menjadi anggota baru dari keluarga politik istana dalam posisinya sebagai putra yang siap menjadi korban. Sedangkan Golkar tetap menjadi simbol padi yang sedang menguning.

Sebelumnya, politik simbol sendiri sudah diawali oleh Golkar di malam perayaan ulang tahunnya. Aburizal Bakrie menyebut partai Golkar dengan bahasa simbol: "langit masih biru tapi padi di desa semakin menguning."

Akankan pertarungan politik simbol ini akan bertahan sampai disini? Dalam konteks pertarungan 2014 tentu saja tidak karena simbol merah sebagai refleksi kemarahan rakyat belum dimunculkan. Simbol merah juga bisa dibaca sebagai wujud keberanian rakyat untuk melawan watak darah biru yang dalam sejarahnya memang cenderung memikirkan citra dan diri sendiri.

Kalau sudah begitu hanya tersisa satu pertanyaan: siapakah yang akan keluar sebagai pemenang? Biru, kuning, atau merah? Untuk mengetahui jawabannya memang masih sangat lama. Mari bersabar sambil terus menjadi diri yang awas dari segala kemungkinan yang ada akibat percampuran partikel kimia hukum dan politik republik ini.
Read more
Selasa, 16 November 2010 | 14.00 | 1 Comments

Pengacara Medan Ditantang Gayus?



Kalau ada sepuluh orang ditanya  "Kalau ingat orang Medan, Ingat apa?”, sembilan dari sepuluh orang pasti akan menjawab "Lawyer"alias pengacara.

Ya. profesi itu yang paling melekat pada diri orang Medan. Sudah seperti sebuah budaya, kalau pengacara diasumsikan sebagai orang Medan. Tentu tidak semua orang Medan adalah pengacara.  Orang Medan sama seperti orang dari suku-suku lain di Indonesia ada di mana-mana dan memiliki berbagai profesi berbeda.

Soal mengapa sampai profesi ini yang paling banyak diingat oleh publik mungkin ada kaitannya dengan sepak terjang para pengacara Medan yang kerap menghiasi dunia pewartaan media. Bahkan, oleh media para pengacara asal Medan banyak yang ditampilkan seperti layaknya para selebriti.  Sampai ada istilah “Pengacara Seleb”. Hebat kali, lah!

Adnan Buyung Nasution alias si Abang atau Ruhut Sitompul alias si Poltak "Raja Minyak", Todung Mulya Lubis, Hotma Sitompoel, Hotma Paris Hutapea, Felix Tampubolon, Bonaran Situmeang, Partahi Sihombing, Petrus Salestinus, dan masih banyak lainnya. Dari nama dan marga mereka, meski belum tentu lahir di Medan, publik pasti memiliki persepsi awal kalau mereka berasal dari Medan.

Profesi pengacara tentu sama terhormatnya dengan seluruh profesi lainnya, oleh karena itu, profesi pengacara juga memiliki peluang yang sama untuk ikut ambil bagian dalam menjadikan Indonesia menjadi negeri yang kembali penuh harapan, penuh kasih sayang, dan penuh cita rasa kebangsaan untuk maju bersama-sama.

Salah satu tantangan berat yang sedang dihadapi oleh bangsa ini adalah soal korupsi. Penegakan hukum terkait korupsi begitu rapuh, lemah dan bobrok. Salah satu indikator dan sekaligus menjadi contoh adalah kasus yang sedang dihadapi sekaligus sedang diperankan oleh Gayus, yang juga kalau lihat dari namanya, identik dengan marga nama orang Medan.

Tidak cukup halaman untuk menguraikan apa yang sudah dilakukan oleh Gayus dan agar adil biarlah pengadilan yang memutuskannya. Tapi kasus keberadaan Gayus di Bali semakin memperlihatkan kemampuan seorang yang disebut "maling kelas kakap" mempermainkan aparat penegak hukum. Jadi, sangat wajar manakala ada yang menilai kalau hukum dan aparatnya sedang ditampar-tampar oleh Gayus dan bisa jadi oleh banyak koruptor dan para mafia hukum lainnya.

Tulisan ini sama sekali tidak dimaksud menyinggung soal ras atau asal usul. Siapapun pelaku kejahatan mestinya sama di mata hukum dan pengadilan. Namun, apa yang sedang menimpa Gayus hendaknya dapat merapatkan barisan para pengacara, hakim, jaksa asal Medan untuk secara moral melakukan tindakan yang lebih proaktif dan progresif guna menjadikan Gayus sebagai entri poin untuk membongkar semua kejahatan hukum yang sedang diperankan oleh koruptor dan para mafia hukum.

Pendekatan orang kampung, kehendak untuk menjaga marwah kampung, dan merawat jiwa kejuangan orang kampung yang kerap diwujudkan dalam bentuk padepokan, paguyuban, organisasi, kelompok bisa juga dipakai sebagai modalitas untuk sumbangsih bagi terwujudnya Indonesia Impian. Misalnya dengan memperluas wilayah kepedulian, salah satunya dalam hal penegakan hukum.

Sejauh ini, yang diketahui publik sepak terjang Gayus memang parah. Tapi, jika Gayus bisa diajak untuk menjadi "petunjuk jalan" untuk membongkar lebih dalam dan lebih jauh lagi bisa jadi ia akan menjadi sosok yang tidak hanya diumpat tapi juga dipuji karena sudah "berjasa" membersihkan Indonesia dari virus korupsi dan mafia hukum. Kebersamaan rasa kampung bisa menjadi "jaminan" bagi Gayus untuk tidak dulu takut pada skenario "pemiskinan" karena ketakutan ini bisa jadi satu alasan bagi dia untuk terus berbohong, bersandiwara, bahkan melindungi mereka yang juga ikut terlibat.

Kalau sudah begini, akankah pengacara Medan tertantang? Akankah "Pengacara Seleb" juga tertantang? Pertanyaan yang lebih penting lagi, beranikah mereka jika ditantang Gayus?

"Pening... pening aku, Mak!

Mudah-mudahan tidak ada yang menjawab, "Halooo! Ini bukan Medan, Bung!".


Saleum,

Risman


Read more
Senin, 15 November 2010 | 11.41 | 0 Comments

Kunjungan Sunyi Sang Martti Ahtisaari ke Aceh

Martti Menerima Nobel Peace
Martti Ahtisaari datang lagi ke Aceh. Tidak seperti kedatangan sebelumnya, kali ini terasa sepi. Tidak banyak pewartaan dan juga tidak banyak sambutan, khususnya dari berbagai elemen masyarakat.

Mengapa? Adakah ini karena sebahagian besar wilayah di Aceh sedang dilanda banjir? Adakah ini karena Indonesia sedang tercekam bencana? Adakah ini karena Aceh sudah damai total?

Atau, jangan-jangan malah sebaliknya. Kehadiran Martti sudah tidak ada maknanya karena persoalan implementasi dan singkronisasi UUPA dengan MoU Helsinki tidak juga teratasi, padahal usia damai Aceh sudah berusia lima tahun lebih.

Dari tajuk rencana Harian Serambi Indonesia diketahui bahwa "Dari 71 pasal MoU Helsinki, sekitar 13 pasal lagi belum terealisasi. Misalnya, belum terbentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), Pengadilan Hak Asasi Manusia, serta Komisi Bersama Penyelesaian Klaim di Aceh. Para eks kombatan GAM juga belum mendapatkan tanah pertanian yang pantas. Provinsi istimewa ini malah belum memiliki bendera, lambang, maupun himne sendiri, sebagaimana diatur dalam MoU. Bahkan batas antara Provinsi Aceh dengan Sumatera Utara berdasarkan risalah 1 Juli 1956 juga belum jelas juntrungannya."

Lebih lanjut Serambi Indonesia juga mencatat bahwa "Di luar itu, kalangan GAM masih belum lupa bahwa ada 17 item yang mereka nilai belum sinkron antara MoU Helsinki dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Masih sering pula dipertanyakan nasib sejumlah napol dan tapol terkait GAM yang hingga kini belum mendapat amnesti umum dan masih mendekam di penjara, sementara teman-teman mereka ada yang sudah menjadi kepala atau wakil kepala daerah, menjadi legislator, dan tak sedikit pula yang kini hidup makmur sebagai pengusaha."

Tidak bisa juga dipungkiri bahwa persoalan MoU Helsinki juga sudah mulai ditarik ke persoalan-persoalan yang lebih substansial meski masih sebatas persepsi. Namun, ketika persepsi dibiarkan tanpa ada penjelasan yang memadai maka bisa jadi persepsi itu berkembang ke arah prasangka. Misalnya, sudah mulai ada lagi perasaan Aceh ditipu lagi, Martti Ahtisaari ternyata tidak netral dan sangat memihak Indonesia dalam perundingan, hasil perundingan ternyata hanya soal ganti nama saja dari otonomi ke self-goverment, dan soal-soal korupsi idiologi.

Kalau semua itu ada benarnya maka bisa saja terjadi apa yang dinyatakan oleh Direktur Penguatan Kapasitas Reintegrasi Irhamna Yusra SAg MA di seminar MoU Helsinki dalam Perspektif Reintegrasi, yang digelar Badan Reintegrasi Aceh (BRA), di Hotel Oasis, Banda Aceh, Sabtu (13/11)bahwa “Jika masyarakat tidak merasakan adanya perdamaian yang sempurna, akan mengakibatkan sikap apatis pada setiap kegiatan yang dilakukannya. Sikap ini yang kita takutkan akan memberi pengaruh negatif pada proses perdamaian dan pembangunan di Aceh.”

Pertanyaannya, mengapa kehadiran Martti seperti sebuah kunjungan sunyi? Mengapa ragam tuntutan terkait singkronisasi dan implementasi MoU Helsinki terabaikan dan mengapa pada saat yang sama Martti ingin menggunakan forum Aceh International Business Summit (AIBS) 2010 untuk menyatakan Aceh sudah damai total? padahal pada saat yang sama sambutan atas kehadirannya sangat sunyi dan ada banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan dan itu berarti bisa menjadi jalan melingkar menuju perulangan konflik? Jawabannya bisa jadi karena tidak ada yang disebut indikator perdamaian Aceh.

Bersambung ke soal Indikator Perdamaian Aceh
Read more
Selasa, 09 November 2010 | 14.22 | 0 Comments

Political Sensuality

[Bahasa Indonesia] Previously, there we a perception that sensuality (sex in gender/sexuality) was used as a tool to get rid of enemies. At present, sensuality (verbal and non verbal persona) is used to attract political support. Is there any sensuality which was used in mean to diminishing critical movement? And, how middle-crises group conducts sensual regime, which politically weak but suported by people?

Talking about sensuality reminds me of Carl’s Jr advertisement. Becuase of Kim Kardashian, It became the hottest and the most sensual ad. Thank to this ad, Kim became wellknown and popular as well.

In marketing, marketing sensuality is not something new. A product offered by the wildness of sensuality  could have been more accepted in the market rather than a product offered by the facts of the excess.

The election of Barack Obama as President of the United States could become the latest evidence about the influence of sensuality in political practice. In fact, the most influential celebrities in the world according to Forbes magazine, Angelina Jolie, also regarded the president of the United States Obama is a sexy man. Not only Jolie, Megan Fox also said the same thing about Obama. For these sensual artist, Obama is one of the sexiest world leader. For them, his body and the way he speech are so sexy. He became an authoritative figure.

It is not a surprise then if Obama later on was designated as one of the top ten sexiest men 2009 version Your Tanggo. Not only that, Obama is also set as the best-dressed man of 2009 by Vanity Fair magazine. Obama’s strong sensuality attraction even has made his inauguration event was also sensual and almost look alike a fashion show event.

Either because they want to copy cat, or just try to attract Obama’s attention, I believe sensuality has entered the Indonesia’s political arena today. Look at the advertising costs incurred by candidates for president of Indonesia in the 2009 Presidential election and also the recall on how the couple SBY's so "smart" to come up with ads full of charm. In fact, there are reportedly ad SBY who identify themselves with the figure of Obama.

In Indonesia's political arena, sensual approach is not something new. Allegedly sensual (in terms of genitalia), once used as a political tool to break the opponent. News such as “siliet” case which used to cut the penis while singing "Tabur Flowers" and ended with a mass free sex actually triggers people to do what is desired by the political actors.

As Acehnese who happened to be active in Aceh conflict monitoring, I  often heard and found  cases which use sensuality as a political media beat your opponent.

There's nothing really wrong with the use of sensuality in gaining political support, especially if sensuality is meant to be the charm (verbal and non verbal). After all, the support becomes very important to maximize the performance of building political.

But it becomes really matter if its usage has tendency in order to "hypnotize" good community and to raise interest and compassion to make people's limited political stronghold dealing with critical groups.

Unfortunately, the change of political stance on the level of the regime has not been balanced by middle-class. Until now, the political pressure is still used as a way to fight the regime. As a result, many demos that actually ended with fellow demonstrators clashed (pros vs. cons).

Are there any who could advise any movement model changes which able to overcome current regime’s political sensuality  primacy?

Saleum Cinta
Risman A Rachman

Translater : ML
Read more

Sensualitas Politik

[Edisi Bahasa Inggris] Dulu, pernah ada dugaan bahwa sensualitas (seks kelamin/seksualitas?) dipakai sebagai alat untuk menyingkirkan musuh politik. Sekarang sensualitas (pesona verbal dan non verbal/rasa) dipakai untuk menarik dukungan politik. Adakah sensualitas juga dipakai sebagai alat pelemahan gerakan kritis? Dan, bagaimana seharusnya kelompok menengah kritis mensikapi rezim sensual yang walau sedang lemah secara politik namun masih tetap kuat dari sisi dukungan rakyat? 

Bicara soal sensual jadi teringat sebuah iklan makanan cepat saji, Carl’s Jr. Iklan ini sempat menjadi iklan paling hot dan sensual berkat peran Kim Kardashian. Melalui iklan ini pula Kim melejit dan tersohor.
Dalam dunia pemasaran, sensual marketing memang bukan jurus baru dalam dunia pemasaran. Sebuah produk yang ditawarkan dengan daya sensualitas “terliar” bisa saja lebih diterima di pasar ketimbang sebuah produk yang ditawarkan dengan fakta-fakta kelebihan.

Terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat  bisa menjadi bukti teranyar soal adanya pengaruh sensualitas dalam praktek politik. Bahkan, selebriti paling berpengaruh di dunia versi majalah Forbes, Angelina Jolie, juga menganggap presiden Amerika Serikat Obama sebagai pria seksi. Tidak hanya Jolie, Megan Fox juga mengatakan hal yang sama tentang Obama. Bagi artis paling seksi ini Obama adalah salah satu pemimpin dunia paling seksi. Baginya, tubuh dan ucapan Obama begitu seksi dan karenanya ia menjadi sosok yang berwibawa.

Maka tidak heran jika Obama kemudian juga ditetapkan sebagai satu dari sepuluh pria paling seksi 2009 versi YourTanggo. Tidak hanya itu, Obama juga ditetapkan sebagai pria berbusana terbaik 2009 oleh majalah Vanity Fair. Begitu kuatnya daya tarik sensualitas seorang Obama hingga acara inaugurasinya pun di buat sedemikian rupa dan nyaris menjadi ajang fashion show.

Entah karena ingin meniru, atau sekedar mendompleng Obama, saya percaya sensualitas sudah memasuki ranah politik Indonesia saat ini. Lihat saja ongkos iklan yang dikeluarkan para calon presiden RI pada Pilpres 2009 dan ingat kembali bagaimana pasangan SBY-Boediono begitu “pintar” tampil dengan iklan-iklan penuh pesonanya. Bahkan, kabarnya ada iklan  SBY yang mengidentikkan diri dengan sosok Obama.

Dalam jagad politik Indonesia pendekatan sensual juga bukan barang baru. Disinyalir sensual (dalam artian alat kelamin) pernah dipakai sebagai alat politik untuk mematahkan pihak lawan. Kabar kasus penggunaan siliet untuk menyayat penis sambil menyanyikan lagu “Tabur Bunga” dan berakhir dengan seks bebas massal benar-benar memicu masyarakat untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh sang aktor politik.

Sebagai orang Aceh yang kebetulan aktif dalam pemantauan konflik juga kerap mendengar dan mendapatkan kasus-kasus yang menjadikan sensualitas sebagai media politik mengalahkan lawan.

Tidak ada yang salah memang dengan penggunaan sensualitas dalam meraih dukungan politik apalagi jika sensualitas yang dimaksud adalah pesona (verbal dan non verbal). Bagaimana pun dukungan menjadi sangat penting untuk memaksimalkan kinerja politik membangun.

Namun menjadi sangat masalah jika pesona lebih dipakai untuk “menghipnotis” masyarakat baik untuk kepentingan mengumpulkan belas kasih maupun untuk menjadikan rakyat sebatas benteng politik kala berhadapan dengan kelompok-kelompok kritis.

Sayangnya, perubahan jurus politik di tingkat rezim belum diimbangi oleh kelas menengah. Sampai saat ini politik tekanan masih saja dipakai sebagai cara untuk melawan rezim. Akibatnya, banyak demo-demo yang justru berakhir dengan bentrok sesama pendemo (pro vs kontra).

Adakah yang mau memberi masukan suatu model gerakan perubahan yang bisa mengatasi sebsualitas politik yang sedang menjadi jurus andalah rezim saat ini???

Saleum Cinta
Risman A Rachman 
Sudah pernah dipublish di sini
http://polhukam.kompasiana.com/2010/02/24/sensualitas-politik/
Read more
Minggu, 24 Oktober 2010 | 13.57 | 0 Comments

Peujaga Teungeut Gerakan Sosial Aceh

Gerakan Sosial Aceh (GSA) sudah mati (suri) sejak detik-detik MoU Helsinki dilangsungkan. Meski begitu, sebuah gerakan sosial selalu akan menemukan momentum kebangkitannya kembali seiring tumbuhnya kesadaran bersama. Dan, untuk kasus Aceh, proyek Nasionalisme Aceh yang belum usai dibangun bisa menjadi pematik ulang kebangkitan GSA.

Menurut apa yang tertulis di wikipedia (cara cepat cari tahu hehe) gerakan sosial (bahasa Inggris:social movement) adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbetuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa gerakan sosial memiliki siklus hidup, yang kurang lebih berupa kurang-lebih sebagai berikut: diciptakan, tumbuh, pencapaian sasaran akhir atau berikut kegagalannya , terkooptasi dan kehilangan semangat. Jadi, pertumbuhan dan kematian atau kemandegkan menjadi sesuatu yang wajar adanya. Pertanyaannya, mengapa gerakan sosial Aceh yang dulunya sempat tumbuh dan menguat mengalami kematian suri?

Sebelum menjawab sebab-sebab kematian suri GSA ada baiknya sedikit melihat ragam jenis gerakan sosial. Meski tidak terlalu dalam, ulasan yang di comot dari blog tetangga berikut bisa menjadi awal kajian lebih lanjut, khususnya para peneliti, analis, dan lainnya.

Pertama, Gerakan Protes. Gerakan protes adalah gerakan yang bertujuan mengubah atau menentang sejumlah kondisi sosial yang ada. Ini adalah jenis yang paling umum dari gerakan sosial di sebagian besar negara industri. Di Amerika Serikat, misalnya, gerakan ini diwakili oleh gerakan hak-hak sipil, gerakan feminis, gerakan hak kaum gay, gerakan antinuklir, dan gerakan perdamaian.

Gerakan protes sendiri masih bisa diklasifikasikan menjadi dua, gerakan reformasi atau gerakan revolusioner. Sebagian besar gerakan protes adalah gerakan reformasi, karena tujuannya hanyalah untuk mencapai reformasi terbatas tertentu, tidak untuk merombak ulang seluruh masyarakat. Gerakan reformasi merupakan upaya untuk memajukan masyarakat tanpa banyak mengubah struktur dasarnya. Gerakan ini, misalnya, menuntut adanya kebijaksanaan baru di bidang lingkungan hidup, politik luar negeri, atau perlakuan terhadap kelompok etnis, ras, atau agama tertentu. Gerakan mahasiswa 1998 di Indonesia termasuk dalam kategori ini.

Sedangkan gerakan revolusioner adalah bertujuan merombak ulang seluruh masyarakat, dengan cara melenyapkan institusi-institusi lama dan mendirikan institusi yang baru. Gerakan revolusioner berkembang ketika sebuah pemerintah berulangkali mengabaikan atau menolak keinginan sebagian besar warganegaranya atau menggunakan apa yang oleh rakyat dipandang sebagai cara-cara ilegal untuk meredam perbedaan pendapat. Seringkali, gerakan revolusioner berkembang sesudah serangkaian gerakan reformasi yang terkait gagal mencapai tujuan yang diinginkan. Gerakan mahasiswa 1998 belum mencapai tahapan ini.

Kedua, Gerakan Regresif atau disebut juga Gerakan Resistensi. Gerakan Regresif ini adalah gerakan sosial yang bertujuan membalikkan perubahan sosial atau menentang sebuah gerakan protes. Misalnya, adalah gerakan antifeminis yang menentang perubahan dalam peran dan status perempuan. Contoh lain adalah gerakan moral, yang menentang tren ke arah kebebasan seksual yang lebih besar. Bentuk gerakan regresif yang paling ekstrem adalah Ku Klux Klan dan berbagai kelompok neo-Nazi, yang percaya pada supremasi kulit putih dan mendukung dipulihkannya segregasi rasial yang lebih ketat.

Ketiga, Gerakan Religius. Gerakan religius dapat dirumuskan sebagai gerakan sosial yang berkaitan dengan isu-isu spiritual atau hal-hal yang gaib (supernatural), yang menentang atau mengusulkan alternatif terhadap beberapa aspek dari agama atau tatanan kultural yang dominan [lihat Lofland, 1985; Zald dan Ash, 1966; Zald dan McCarthy, 1979]. Kategori luas ini mencakup banyak sekte, bahkan mencakup sejumlah gereja yang relatif terlembagakan, yang juga menentang beberapa elemen dari agama atau kultur yang dominan.

Keempat, Gerakan Komunal, atau ada juga yang menyebut Gerakan Utopia. Gerakan komunal adalah gerakan sosial yang berusaha melakukan perubahan lewat contoh-contoh, dengan membangun sebuah masyarakat model di kalangan sebuah kelompok kecil. Mereka tidak menantang masyarakat kovensional secara langsung, namun lebih berusaha membangun alternatif-alternatif terhadapnya. Ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Seperti: membangun rumah kolektif, yang secara populer dikenal sebagai komune (communes), di mana orang tinggal bersama, berbagi sumberdaya dan kerja secara merata, dan mendasarkan hidupnya pada prinsip kesamaan (equality).

Kelima, Gerakan Perpindahan. Orang yang kecewa mungkin saja melakukan perpindahan. Ketika banyak orang pindah ke suatu tempat pada waktu bersamaan, ini disebut gerakan perpindahan sosial (migratory social movement). Contohnya: migrasi orang Irlandia ke Amerika setelah terjadinya panen kentang, serta kembalinya orang Yahudi ke Israel, yang dikenal dengan istilah Gerakan Zionisme.

Keenam, Gerakan Ekspresif. Jika orang tak mampu pindah secara mudah dan mengubah keadaan secara mudah, mereka mungkin mengubah sikap. Melalui gerakan ekspresif, orang mengubah reaksi mereka terhadap realitas, bukannya berupaya mengubah realitas itu sendiri. Gerakan ekspresif dapat membantu orang untuk menerima kenyataan yang biasa muncul di kalangan orang tertindas. Meski demikian, cara ini juga mungkin menimbulkan perubahan tertentu. Banyak ragam gerakan ekspresif, mulai dari musik, busana, sampai bentuk yang serius, semacam gerakan keagamaan dan aliran kepercayaan. Lagu-lagu protes pada tahun 1960-an dan awal 1970-an diperkirakan turut menunjang beberapa reformasi sosial di Amerika.

Ketujuh, Kultus Personal. Kultus personal biasanya terjadi dalam kombinasi dengan jenis-jenis gerakan lain. Gerakan sosial jenis ini berpusat pada satu orang, biasanya adalah individu yang kharismatis, dan diperlakukan oleh anggota gerakan seperti dewa. Pemusatan pada individu ini berada dalam tingkatan yang sama seperti berpusat pada satu gagasan. Kultus personal ini tampaknya umum di kalangan gerakan-gerakan politik revolusioner atau religius.

Pertarungan: Ketika Ide Dikalahkan oleh Politik dan Sosok
GSA mati suri sungguh bukan dikarenakan ketiadaan ide untuk mengubah keadaan Aceh agar bisa keluar dari keadaan sebelumnya yang diklaim telah gagal mengantar Aceh keluar dari masa lalu yang gelap. GSA mati suri karena menyerahkan sepenuhnya kontruksi keacehan kepada pihak yang kemudian menjadi penentu nasib Aceh.

MoU Helsinki adalah bukti nyata betapa GSA berubah dari gerakan ide yang brilliant menjadi gerakan doa yang arif. Tidak ada sama sekali sumbang pikiran yang dihasilkan dari duek pakat mereka yang selama kejatuhan rezim Soeharto ambil bagian dalam GSA. Seluruh naskah MoU Helsinki terlepas dari pemahaman yang dipahami dengan benar dan utuh oleh komponen masyarakat sipil di Aceh. Buktinya, setelah usia MoU Helsinki mencapai 5 tahun konsep Self Government masih belum menjadi pemahaman bersama. Pemahaman tentang Self Government hanya menjadi milik utuh para pihak, yang ternyata memiliki tafsir masing-masing. Satu pihak menganggap itu beda dengan otonomi sedangkan pihak yang lain menganggap itulah otonomi Aceh.

Akibatnya, mereka-mereka yang sejak awal tidak begitu rela dengan MoU Helsinki kembali menarik isu ini ke bahasa politik masa lalu yakni "Aceh kembali ditipu oleh Jakarta." Lantas, bagaimana dengan GSA? Jelas tidak punya pandangan dan kembali menjadi pihak yang terbelah, terus mendukung MoU Helsinki atau ikut serta menggugat MoU Helsinki minimal mempertanyakan keberadaan dan peran juru runding atau menariknya dalam pengertian telah terjadi korupsi idiologis.

Nasionalisme Aceh: Proyek Ide yang Belum Selesai
Nasionalisme Aceh yang dulu sempat menjadi spirit dan ethik kebangkitan masyarakat sipil Aceh masih bisa menjadi media pemicu kebangkitan ulang GSA di bumi Serambi Mekkah. Ada banyak alasan mengapa Nasionalisme Aceh masih menjadi hal penting bagi Aceh. Salah satu adalah belum juga terjadi apa yang disebut kebangkitan rasa kenanggroan secara bersama dari seluruh anak bangsa Aceh untuk apa yang disebut kepentingan masa depan Aceh: hidup lebih baik agar bisa sejajar dengan anak-anak bangsa lain di Indonesia, Asia, dan Dunia.

Karena itu, menumbuhkan kembali lingkaran-lingkaran atau kelompok ide diberbagai kelompok menjadi sangat penting. Pada saat yang sama menumbuhkan kesadaran kelas juga menjadi sangat mendesak agar gerakan yang berbasis isu mendapat dukungannya dari berbagai komponen masyarakat yang memang sampai saat ini masih teralienasi dari dinamika pembangunan Aceh.

Pertukaran siklus kekuasaan di Aceh tidak boleh menjadi penggoda bagi GSA karena siapapun yang berkuasa godaan kekuasaan akan membuka ruang bagi terjadinya "pendangkalan aqidah pembaharuan keacehan." Disinilah makna GSA penting untuk dihidupkan kembali setelah mengalami kematian suri sejak detik-detik MoU Helsinki dialngsungkan.

Hanya yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana memformulasikan GSA agar ia bisa menjadi media bagi membangun kesadaran bersama. Sebuah pertanyaan yang membutuhkan tidak hanya sekedar renungan melainkan juga butuh kajian dan diskusi yang terus menerus. Ada yang mau? 

Catatan Lepas Usai Diskusi Prodelat, 23 Oktober 2010 di Warkop Atlanta
Peujaga Teungeut : membangunkan tidur
Read more
Jumat, 22 Oktober 2010 | 14.21 | 1 Comments

Salah Pileh Pemimpen? Bek Le Lah!

"Jak beutrok, ngieng beudeuh, bek rugou meuh, saket hatee."


Hadih Madja Aceh yang umum dipakai dalam konteks jodoh itu relevan juga untuk dipakai dalam hal pemilihan pemimpin. Soalnya, saat ini sedang berlangsung trend perasaan salah pilih pemimpin.

Lihatlah demo-demo yang digelar di berbagai daerah yang ujungnya bisa dipahami sebagai bentuk ekspresi kekecewaan terhadap pemimpin yang ada. Dalam bahasa Aceh disebut "ka salah pileh." (salah pilih).

Salah pileh atau salah pilih bukan hanya milik bangsa Indonesia atau Aceh atau juga daerah dan negeri lainnya. Salah pilih pemimpin juga pernah menghinggapi masyarakat Amerika. Presiden yang diklaim banyak orang sebagai produk salah pilih adalah Warren Gamaliel Harding, Presiden AS ke 29 dari Partai Republik. Dialah presiden keenam AS yang meninggal di kala masih menjabat karena stroke. Bahkan, kebanyakan sejarahwan menilai dialah salah satu presiden sangat buruk dalam sejarah Amerika.

Mengapa Warren dinilai sebagai produk salah pilih? Dan, mengapa sampai ia bisa disebut sebagai produk salah pilih? Dari kisahnya, Aceh bisa memetik pelajaran sehingga tidak mengulangi apa yang pernah terjadi dibelahan dunia lain pada tahun 1921 - 1923. Jika ini terjadi maka Aceh sudah terlalu banyak mengalami masa kemunduran. Hanya keledai yang mungkin jatuh ke lubang yang sama, berkali-kali.

Saya menemukan jawaban salah pilih produk pemimpin itu di tulisan Warren Harding Error dalam buku berjudul "blink" karangan Malcolm Gladwell. Berikut petikan bebasnya:

Sungguh, pria kelahiran Blooming Grove, Ohio yang kemudian terpilih menjadi Presiden AS, Warren, bukanlah orang yang yakin dengan kemampuannya sebagai pemimpin. Ia bukanlah orang yang sangat cerdas. Ia gemar bermain poker, golf, dan minum-minum sampai mabuk, dan kerap tampil sebagai perayu perempuan.

Tapi, berkat seorang "makelar" politik bernama Harry Daugherty, Warren Harding berhasil dihantar ke tampuk kekuasaan AS, menjadi orang nomor satu. Bagi Daugherty, hanya dengan mengamati sekejap sosok Harding ia langsung membuat kesimpulan yang kemudian memang terbukti benar namun sekaligus kebenarannya telah mengubah sejarah Amerika ke arah yang buruk karena kepemimpinannya.

Apa yang membuat Daugherty berani meyakinkan Harding untuk mencalonkan diri menjadi Presiden kendati berlawanan dengan penilaian Harding sendiri soal kemampuannya.

Rahasinya ada pada keadaan umum orang yang memang banyak menggunakan pandangan sekilas (blink) sebagai dasar dalam pengembilan keputusan. Sering sekali tanda-tanda umum dijadikan landasan untuk memutuskan si A menjadi pasangannya hanya karena ia sudah memenuhi bayangan alam bawah sadarnya tentang pasangan ideal. Begitu juga dalam hal siapa pemimpin ideal. Bayangan tentang kisah pemimpin yang digambarkan dalam mitos kerap menjadi dasar dalam memutuskan siapa yang harus kita pilih.

Alam bawah sadar kita ternyata memang lebih banyak menyimpan informasi, yang kadangkala tidak pernah mengalami updating. Bahkan, yang lebih parah, rekaman informasi permukaan membanjiri pita rekaman memori alam bawah sadar kita.

Dalam konteks Aceh misalnya. Selama 30 tahun konflik, terlalu banyak informasi permukaan yang tersimpan di memori bawah sadar kita. Belum usai satu peristiwa tercerna dengan baik sudah muncul ragam peristiwa baru dan begitu seterusnya sehingga nyaris tidak dimengerti lagi mana informasi yang benar, masuk akal, dan bermanfaat bagi diri, lingkungan, dan masa depan. Bahkan, sejarah pun ditulis dengan tanpa punya kesempatan untuk mengkritisinya.

Akibatnya, ketika dihadapkan pada keharusan untuk menetapkan pilihan dan atau membuat keputusan maka blink lah yang memainkan peran dan think (pikiran) menjadi tidak berdaya, termasuk dalam hal pemilihan pemimpin. Akhirnya, kembali pada kebiasaan yang sudah terpendam lama di setiap diri dengan menjadikan tampilan dan penampilan atau sosok (luar) sebagai panduan dalam membuat keputusan atau menjadikan informasi permukaan sebagai alasan sebuah pilihan ditetapkan.

Begitulah cara Daugherty memastikan Hording menang menjadi Presiden AS. Ketampanannya, suara bicaranya, dan tatapan matanya yang memang memancarkan martabat seorang presiden menjadi modal utama dan memang berhasil menjadikannya sebagai presiden.

Tapi, apa yang terjadi kemudian? Ia kemudian meninggal tiba-tiba karena stroke. Menurut Gladwell, kesalahan bangsa Amerika sampai memilih Warren Harding sebagai presiden merupakan sisi gelap dari pemahaman cepat (rapit cognition).

Jika di Aceh ada ungkapan han sanggop tapike atau han ek pike atau "tak naik pikir" maka ini gejala atau fenomena bahwa alam bawah sadar kita sudah terlalu mendominasi alam sadar sehingga segala sesuatu besar kemungkinan diputuskan dengan cara pemahaman cepat, yang akhirnya berpeluang pada salah pileh alias salah pilih.

Maka, tidak sangat bijak untuk secara cepat menyalahkan sang pemimpin yang adalah produk dari pilihan kita sendiri. Sikap cerdas adalah kita yang harus melakukan perubahan dalam dunia pilih memilih pemimpin dengan cara mengubah cara pandang kita dari cara berpikir cepat menuju berpikir dalam dan mengubah sudut pandang kita.

Sungguh, mengubah dunia bisa dilakukan dengan mengubah cara pikir dan sudut pandang diri sendiri alias mengubah diri dan bukan memaksa meminta orang lain untuk berubah.

Seulamat menelusuri sosok pemimpin Aceh sejak dini "mangat bek rugo meuh saket hatee. "

Read more
Senin, 11 Oktober 2010 | 15.04 | 2 Comments

Menjaring Pemimpin Aceh

Saya baru saja usai membaca "Fellowship of The Ring" bagian pertama dari novel trilogi "The Lord of The Ring" kala bermaksud menanggapi ulang tulisan Jarjani Usman "Pemimpin Oplosan" (SI, 02/10/2010) dan juga tulisan Mariska Lubis "Dilema Pemimpin Aceh" (SI, 06/10/2010).



Tentu saja saya tidak bermaksud untuk menyamakan Aceh dengan negeri Middle-Earth yang ingin dikuasi oleh Sauron, Sang Penguasa Kegelapan melalui cincin The One Ring sebagaimana dikisahkan dalam karya hasil imajinasi J.R.R Tolkien, seorang Profesor Anglo-Saxon di Oxford University (England) sebagai landasan pikir guna menanggapi  balik kedua sosok penulis aktif di atas. Meski begitu,  novel yang sama suksesnya dengan film LotR ini betul-betul menginspirasi saya dan karena itu ingin menjadikannya sebagai sandingan argumen logik kedua penulis khususnya dalam mendalami lebih luas tentang apa itu pemimpin dan apa yang senyatanya disebut sebagai tantangan di tengah dinamika keacehan saat ini. 



Tidak hanya inspirasi dari novel atau film LotR saja, ada beberapa kisah yang saya dengarkan dari “pembaca makna” novel lain, juga akan saya pakai. Sungguh, bukan untuk menandingi jalan pikiran apalagi bermaksud agar tampil beda dari apa yang sudah ditanggapi oleh kedua penulis. Saya sangat menghormati kedua tanggapan yang ada. Saya hanya ingin mendorong agar semakin lebih berani berimajinasi tentang Aceh sehingga seluruh pikiran yang sudah ada tentang Aceh tidak menjadi sebuah kekuatan yang terus saja menghegemoni cara berpikir Ureung Aceh, sebagaimana pengaruh yang ditimbulkan oleh cincin The One Ring. Hanya dengan begitu, spirit keacehan yang selama ini hanya menyala dari satu sumbu saja juga bisa nyala dari sumbu lainnya. Dengan cara ini, diharapkan akan lebih banyak lagi inspirasi yang muncul dari semua sago keacehan, termasuk inspirasi untuk tampil sebagai pemimpin. 



Terus terang, cara ini tidak dimaksudkan untuk menghindari ajakan Jarjani tentang pentingnya melakukan identifikasi tantangan keacehan. Hal itu tentu penting dan memang lazim dilakukan oleh organisasi. Tapi, yang saya tahu, pendekatan untuk identifikasi tantangan pelan-pelan sudah ditinggal dan beralih ke pendekatan appreciative inquiry (AI). Dalam AI, tantangan terpenting justru pada bagaimana menggali inspirasi, apresiasi, dan imaginasi yang dalam pemahaman rendahan saya bisa kita gali dari spirit dan etik kehambaan kita sebagai khalifah bumi.



You Can Inspire

”Untuk mencapai satu tujuan yang sama mestinya semua praktek pemilihan memberi dorongan bagi semua untuk tampil menjadi diri yang berani dan sekaligus memiliki jiwa yang mengapresiasi.”.

Setidaknya itulah pesan kuat yang bisa tertangkap dari pertemuan semua ras di Revendell yang kemudian membangun keberanian Frodo untuk mengusulkan diri menjadi pembawa cincin paling berbahaya itu ke pengunungan Mordor untuk dimusnahkan. Keberanian Frodo yang sempat diragukan karena ia hanya seorang Hobbit justru diapresiasi yang kemudian menginspirasi terbentuknya persekutuan (Fellowship of The Ring) yang beranggotakan semua ras ”baik”. 



Dengan visi, tekad, kerjasama, dan pengawasan serta asah pengalaman di sepanjang perjalanan itulah segenap rintangan dihadapi. Sungguh, tantangan terbesar itu bukan pada bala pasukan Sauron melainkan pada godaan yang ada pada diri mereka sendiri. Sedikit saja Frodo tergoda oleh kuasa yang ada pada cincin maka musnahlah sudah visi mereka semua. 



Andai semangat Revendell itu berlaku juga di Verandah Aceh tentu akan lebih banyak lagi muncul inspirator Aceh dari semua sago dan tidak harus langsung terpatahkan hanya karena pengaruh alam pikiran dan perasaan keacehan yang sudah dibentuk sedemikian rupa seperti saat ini dalam praktek politik awak blah deh dan awak blah nyoe atau awak kamoe dan awak gob. 



Persepsi yang terus ada ini pada akhirnya membuat tidak ada rasa percaya diri dan keinginan untuk bisa tampil dan maju. Ibarat seorang pengemis dalam kisah humor menggelitik dalam buku “The Overcoat” karya Nikolai Gogol, seorang penulis Rusia, yang berkeinginan untuk memiliki mantel hangat guna menghangatkan tubuhnya di kala musim dingin tiba. Sayangnya, ia terbelenggu sendiri dengan jati dirinya sebagai seorang pengemis dan menempatkan keinginannya sebagai mimpi belaka. 



Mentalitas pengemis pada akhirnya membuat dirinya lebih memilih untuk pasrah dan menyerah begitu saja, dan tetap menjadi seorang pengemis yang menderita karena kedinginan.



Topeng Pemimpin

Sebenarnya belum tentu demikian ceritanya bila pengemis itu mau menantang diri dan lingkungannya mengapresiasi mesti itu baru sekedar mimpi belaka. Soalnya, banyak juga yang terlalu percaya diri dan yakin bahwa dirinya adalah pemimpin tetapi sebenarnya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin. Seperti yang dikisahkan dalam buku berjudul “The Death of Vishnu”, yang dibuat oleh Manil Suri, seorang Profesor matematika muda India berdomisili di Amerika Serikat.



Dengan latar belakang budaya sosial masyarakat India, dikisahkan seorang pria yang menjadi Vishnu, sang penyelamat, padahal dia hanyalah seorang yang berpura-pura menjadi Vishnu.  Dia hanya seorang pemalas yang hanya ingin kesenangan dan kenikmatan  bersama para gadis perawan desa di tempat yang lugu dan polos.

Terbukti sewaktu dia kemudian berada di tempat yang lain, dia tidak bisa melakukan aksinya. Topeng itu tidak bisa digunakannya dan dia juga tidak mungkin lagi untuk kembali ke daerah asalnya semula karena mereka di sana sudah mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Di akhir kisah, diceritakan pada akhirnya dia menderita dalam sengsara. Bukan dalam penderitaan harta tetapi batin karena diliputi kecemasan, takut, dan rasa malu. Biar bagaimanapun juga dia tahu dia memang telah berbuat salah dan menipu.



Rasa bersalah ini juga yang seorang saudagar dalam salah satu kisah di buku ini menjadi penuh ketakutan dan kecemasan. Dia sangat mudah cemburu kepada istrinya dan juga selalu takut akan dibunuh atau dihabisi lawan-lawannya. Lucunya, dia juga sangat takut tidak masuk nirwana.

Dia tidak lagi yakin dengan agama yang dianutnya dan menganut, berdoa, dan beribadah menurut semua agama.

Dia yang mengaku dan merasa “lebih” dari yang lainnya, ternyata terbukti juga sebenarnya hanya berpura-pura saja. Kebaikan yang digembar-gemborkan untuk mendapatkan simpati dan pujian ternyata hanyalah omong kosong belaka. Sewaktu ada seorang miskin dari kasta yang lebih rendah dan meminta bantuan pun mereka hanya bisa saling tunjuk. Tidak ada yang mau bertanggungjawab bahkan untuk urusan membayar ambulance dan biaya pemakaman.

Politik Perubahan

Lain lagi dengan kisah dalam “The Cairo Trilogy" karya Naguib Mahfouz, seorang penulis terkenal dari Mesir. Dilatarbelakangi keadaan Mesir yang Islami, dikisahkan seorang pria yang merasa dia adalah benar-benar seorang pemimpin sejati. Benar dia kemudian menjadi seorang pemimpin tetapi dia lupa bahwa perubahan di dalam kehidupan itu terus berjalan. Masyarakat yang tadinya bermental “jajahan” telah berubah dan pola kepemimpinan feodalisme yang otoriter itu tidak bisa lagi diterapkan.

Sadar tidak mampu memimpin namun terlalu angkuh untuk mengakuinya dan meletakkan jabatan. Sampai pada akhirnya, digulingkan oleh “anaknya” sendiri yang merasa malu karena apa yang diucapkan oleh ayahnya itu berbeda sekali dengan apa yang diterapkan dan dilaksanakan. Perubahan yang dijanjikan itu hanyalah sekedar janji karena pada fakta dan kenyataannya, sebagai seorang pemimpin, dia pun tidak siap menghadapi perubahan.



Memetik kisah dari buku-buku ini, pemimpin tentunya tidak berarti harus berdasarkan keturunan hebat, ras unggul atau dari wilayah utama. Siapapun bisa menjadi seorang pemimpin selama memang memiliki keberanian, kesiapan, bertanggungjawab, mampu menjaga amanah yang diberikan serta didukung dan mendapat dukungan dari semua. Kadang, lebih baik mereka berasal dari yang tersisihkan dan dibuang tetapi memang benar-benar mampu daripada yang berasal dari yang “dianggap mampu” namun ternyata hanya seolah-olah mampu atau dibuat seolah-olah mampu hanya karena dia awak kamoe.



Masih mau bertanya apa yang menjadi tantangan keacehan terbesar dari waktu ke waktu? Semoga saya memiliki kesempatan untuk berkisah atau mementaskan secara lebih leluasa di lain waktu  dalam “Hikayat Nanggroe Kareung.” Insya Allah.

Risman A Rachman

Sumber Foto di sini
Read more

Imam Calon Independen: Perlukah?

“Setiap orang berpeluang menjadi imam. Tapi, tidak semua orang bisa menjadi imam di Mesjid Raya Baiturrahman. “

Apakah kalimat pernyataan itu, berlebihan? Atau, pertanyaan lebih esensial adalah apakah Mesjid Raya Baiturrahman telah mengingkari hak-hak muslim untuk menjadi imam?

Saya tentu tidak punya kompetensi untuk mengatakan ia atau tidak. Tapi faktanya itulah kebiasan yang kemudian menjadi tradisi yang dipandang baik dan karenanya terus dipraktekkan.

Saya belum melihat ada imam independen yang segera berdiri di depan sebelum atau usai muadzin mengkumandangkan azan. Atau sebaliknya, ada jamaah yang mempersilahkan seoarang yang dipandang cakap dan mampu menjadi imam untuk berdiri di depan memimpin shalat jamaah.

Mungkin, baru menjadi tanda tanya manakala imam mesjid kebanggaan Aceh itu hanya itu-itu saja dan baru berganti manakala sang imam sakit, tidak berada di tempat, atau meninggal dunia.

Mungkin, akan menjadi pertanyaan manakala mesjid bersejarah itu tidak menyediakan “jalan” bagi orang-orang yang berpotensi menjadi imam baik karena kecakapannya maupun karena kepercayaan banyak orang.

Pertanyaan penting bagi pengurus Mesjid Raya adalah apakah ada mekanisme atau tradisi yang memungkinkan orang-orang untuk bisa juga menjadi imam? Pertanyaan yang sama pada setiap muslim sama yakni apakah sebagai muslim mereka sudah membangun kesalehan keislaman (iman, ilmu, amal) yang bisa menjadi modal untuk menjadi imam?

Jika tidak bagaimana? Apa yang harus dilakukan sebagai tindakan yang adil dan bijak? Apakah dengan mendirikan mesjid raya tandingan? Mungkin kita bisa mengajukan argumentasi bahwa banyak mesjid lebih bagus dari segi syiar. Mesjid sebagai salah satu panji umat Islam akan kelihatan meriah dan gagah. Tapi ketika satu pertanyaan praktis diajukan maka realitas simbolik akan segera menjadi lemah, yakni apakah lebih baik banyak mesjid tapi sedikit jamaahnya dan lemah imamnya atau sedikit mesjid tapi terkelola dengan baik?

Saya tidak ingin menjawab yang terakhirlah yang lebih baik karena faktanya banyak sekali mesjid yang tidak terkelola dengan baik sebagaimana semestinya sebuah mesjid.

Dalam konteks imam saya lebih ingin mendorong agar mesjid yang ada dimaksimalkan peran, fungsi, sistem, dan mekanismenya sehingga setiap muslim yang sudah membangun kesalehan keislaman (iman, ilmu, amal) dapat memungkinkan untuk menjadi imam. Sebaliknya, menganjurkan agar setiap muslim “berlomba-lomba” dalam melakukan kesalehan keislaman agar makmum menjadi lebih tenang dalam shalatnya.

Saya tidak bisa membayangkan jika setiap orang yang ingin atau diingini menjadi imam akan memilih mendirikan mesjid dan terus mendirikan mesjid karena tidak ada jalan yang disediakan oleh pengurus mesjid yang sudah ada. Pasti imam dan jamaahnya akan kesulitan. Imam lelah dalam membangun keyakinan jamaah agar mau menyumbang untuk pendirian mesjid. Panitia mesjid akan akan lebih banyak “bergerilya” untuk menyebarkan proposal pembangunan mesjid. Dan jamaahpun akan terbebani diantara amal dan keadaan hidup.

Lantas, apa solusi terbaiknya? Menyediakan mekanisme rekruetmen imam dari calon independen? Atau,  mendorong mesjid untuk membangun mekanisme rekrutmen imam yang terbuka bagi semua muslim?

Tentu kedua solusi yang ada sah dan karenanya masing-masing punya argumentasi. Bagi penganut paham calon independen mungkin bisa berargumen bahwa setiap muslim berhak untuk dipilih menjadi imam dan untuk menjadi imam tidak harus menjadi pengurus mesjid dulu. Bila perlu bisa dikemukan argumen penguat dengan mengatakan “bukankan hamparan bumi Tuhan ini adalah mesjid?”
Tapi bagaimana jika solusinya adalah mesjid yang ada menyediakan mekanisme rekrutmen calon imam yang dalam pemilihannya dibuka untuk setiap orang yang ingin dan diinginkan menjadi imam.  Dalam pemilihan itu akan diuji kompetensinya dan dilihat tingkat dukungannya jika ada lebih dari satu calon imam.

Saya tentu akan memilih cara yang kedua mengingat pentingnya makna penguatan mesjid sebagai pusat keislaman bagi Aceh. Bisa jadi ada yang mengajukan argumen masa lalu bahwa mesjid yang ada tidak menampung pluralitas keberagamaan umat. Saya hanya ingin mengatakan bahwa waktu senantiasa menyediakan ruang bagi perubahan dan perbaikan. Masa boleh menjadi alat pertimbangan tapi tidak boleh menjadi alasan untuk menghukum karena setiap masa memberi ruang bagi terjadinya hal yang sama pada siapapun. Baik imam dari mesjid maupun imam dari calon independen berpotensi salah.

Karena itulah, spirit yang indah itu tekanannya bukan pada bagaimana merekruet sang imam melainkan pada bagaimana mesjid yang sudah ada dan didukung oleh jamaah dan warga memiliki watak, spirit, dan prilaku yang menjamin hadirnya manfaat yang besar bagi jamaah, warga, dan syiar Islam dan harumnya daerah.

***

Sungguh, seluruh paparan di atas hanyalah sebagai perumpamaan untuk mendiskusikan wacana tentang calon independen dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) di Aceh yang menurut warta media harian ini (28/9) sedang diperjuangkan baik melalui MK untuk pembatalan pasal 256 UUPA maupun melalui rancangan qanun pemilihan kepala daerah.

Dengan perumpaan di atas saya ingin mengatakan lebih utama untuk mendorong partai politik yang sudah ada dan mendapat kepercayaan rakyat agar menjalankan apa yang disebut agenda aksi perubahan politik dan politik perubahan.

Salah satu agenda aksi yang bisa dilakukan adalah semua partai politik didorong untuk mentradisikan gelar konvensi atau duek pakat parte dalam rekruetmen calon gubernur dan atau bupati/walikota guna memilih putra dan putri terbaik untuk menjadi calon dalam pilkada di Aceh. Pada saat yang sama semua aneuk agam - inoeng jroeh Aceh di dorong untuk "berlomba-lomba" dalam politik perubahan (kesalehan sosial) sebagai modal untuk menuju konvensi atau duek pakat parte.

Sungguh, jika tradisi ini bisa dikembangkan di Aceh maka Aceh akan kembali menjadi "kiblat" sekaligus "imam" bagi perubahan politik dan politik perubahan dan tidak hanya sekedar pernah menjadi rujukan soal calon independen. Semoga

Risman A Rachman

Sumber foto di sini
Read more
 
Copyright rismanrachman © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.